Discoffeery

Diet Ketogenik atau long chain trigliseride diet

Kiriman blog   •   Feb 01, 2017 18:24 GMT

Epilepsi merupakan suatu bangkitan kejang berulang disebabkan aktivitas listrik abnormal di otak. Insidensi epilepsi berkisar 40:100.000 anak per tahun.1 Sekitar 25 - 30% anak dengan epilepsi akan berkembang menjadi kejang refrakter yang tidak berespons terhadap terapi farmakologis atau menjadi intoleran terhadap efek samping obat anti epilepsi yang disebut sebagai epilepsi Intracable. Epilepsi Intracable didefinisikan sebagai kontrol kejang yang inadekuat dengan pemberian 2 atau lebih obat anti epilepsi lini pertama atau timbul efek samping obat yang tidak diinginkan.

Diet ketogenik merupakan terapi non farmakologi, terdiri dari diet tinggi lemak, cukup protein, dan rendah karbohidrat yang digunakan untuk tatalaksana epilepsi intracable terutama pada anak. diet ini direkomendasikan jika penggunaan obat-obat anti epilepsi telah gagal atau timbul efek samping obat yang tidak diinginkan. The International Ketogenic Diet Study Group, mengeluarkan sebuah hasil konsensus tentang penggunaan diet ketogenik pada anak yang telah gagal dengan 2 tau 3 obat antikonvulsan, terutama pada anak dengan epilepsi umum simptomatik.diet ketogenik diduga berperan sebagai antikonvulsan, antiepileptogenik dan mempunyai efek neuroprotektif, sehingga diharapkan pemberiannya dapat mengurangi atau mengeliminasi kejang.

Sejak tahun 1920, diet ketogenik telah digunakan untuk tatalaksana epilepsi. Hasil konsensus The International Ketogenic Diet Study Group tahun 2006, merekomendasikan penggunaan diet ketogenik pada anak yang telah gagal dengan 2 atau 3 macam terapi antikonvulsan. diet ketogenik merupakan terapi non farmakologi, terdiri dari diet tinggi lemak, cukup protein, dan rendah karbohidrat yang digunakan untuk tatalaksana epilepsi intractable. tujuan utama diet ketogenik adalah mengurangi atau mengeliminasi kejang.

Diet ketogenik telah digunakan secara luas dan terbukti berhasil untuk tatalaksana anak epilepsi yang resisten terhadap obat anti epilepsi sejak tahun 1920. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efikasi diet ketogenik dengan desain penelitian randomised controlled trial. Metode. 145 anak usia 2−16 tahun dengan jumlah kejang minimal 1 kali sehari (atau lebih dari 7 kali setiap minggu), yang tidak berespon pada sedikitnya 2 macam obat anti epilepsi, 4 dan belum pernah diberikan diet ketogenik sebelumnya diikutkan pada penelitian randomised controlled trial. Waktu pengambilan sampel antara bulan Desember 2001−Juli 2006. 

Pasien epilepsi dirandomisasi untuk menerima diet ketogenik, dan tanpa perubahan terapi (kelompok kontrol). Pembagian kelompok dilakukan secara double blinded. Setiap pengunduran diri dicatat, dan frekuensi kejang dinilai setelah pemberian diet selama 3 bulan dibandingkan kelompok kontrol. Tujuan utama adalah penurunan frekuensi kejang; analisa secara intention to treat. Toleransi diet dinilai dengan kuesioner pada 3 bulan setelah intervensi. Penelitian ini teregistrasi di ClinicalTrials.gov, nomor NCT00564915. 

73 anak dirandom untuk menerima diet ketogenik dan 72 anak sebagai kelompok kontrol. Hanya data dari 103 anak dapat di analisis: terdiri 54 anak kelompok diet ketogenik dan 49 anak kelompok kontrol. Anak yang tidak menyelesaikan penelitian, terdiri 16 anak tidak menerima intervensi, 16 anak tidak didapatkan cukup data, dan 10 anak mengundurkan diri dari pengobatan sebelum 3 bulan, 6 diantaranya karena intoleransi. Setelah 3 bulan, persentase rata−rata kejang secara signifikan lebih rendah pada kelompok diet ketogenik dibandingkan kelompok kontrol (62% vs 136,9%, penurunan 75%, CI 95% : 42,4−107,4%; p<0,0001). 28 anak (38%) kelompok diet ketogenik terdapat penurunan kejang >50% dibandingkan 4 anak (6%) kelompok kontrol (p<0,0001), dan 5 anak (7%) pada kelompok diet ketogenik terdapat penurunan kejang >90% dibandingkan kelompok kontrol (0) (p=0,0582). Tidak ada perbedaan signifikan dari efikasi diet ketogenik antara sindrom epilepsi umum simptomatik atau fokal simptomatik. Efek samping paling sering yang dilaporkan setelah 3 bulan adalah konstipasi, muntah, kurang energi, dan kelaparan. 

Hasil dari penelitian ini mendukung penggunaan diet ketogenik pada anak dengan epilepsi intractable.